<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Yusfi Photography</title>
	<atom:link href="http://blog.yusfiardiansyah.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.yusfiardiansyah.com</link>
	<description>My Live Photography Journal</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Dec 2008 07:34:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.4</generator>
		<item>
		<title>Low Speed Photography</title>
		<link>http://blog.yusfiardiansyah.com/?p=23</link>
		<comments>http://blog.yusfiardiansyah.com/?p=23#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Dec 2008 07:33:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yusfi Ardiansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photo Landscape]]></category>
		<category><![CDATA[Photo Learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.yusfiardiansyah.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[Foto kecepatan rendah (low speed) bisa melahirkan cita rasa seni yang tinggi karena permainan cahaya di dalamnya. Kecepatan rendah bisa digolongkan pada foto dengan speed di atas 1/30 detik dimana kita sudah bisa mendapatkan gerak/motion pada foto di atas 1/30 detik. Setiap fotografer biasanya memiliki angka speed  favoritnya. Seperti saya misalnya, menyukai speed 1/30 detik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Foto kecepatan rendah (low speed) bisa melahirkan cita rasa seni yang tinggi karena permainan cahaya di dalamnya. Kecepatan rendah bisa digolongkan pada foto dengan speed di atas 1/30 detik dimana kita sudah bisa mendapatkan gerak/motion pada foto di atas 1/30 detik.</p>
<p>Setiap fotografer biasanya memiliki angka speed  favoritnya. Seperti saya misalnya, menyukai speed 1/30 detik untuk panning foto, 1/10 detik untuk zooming foto dengan komposisi lampu2, 30 detik untuk mendapatkan motion lampu mobil di jalan perkotaan, dsb.</p>
<p>Contoh foto lowspeed pada 30 detik, coba perhatikan efek motion dari lampu2 mobil yang menjadi begitu indahnya:</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.yusfiardiansyah.com/content/Gallery/Landscape/sampoerna_strategic_square.jpg"><img class="aligncenter" title="Samporna Strategic Square" src="http://www.yusfiardiansyah.com/content/Gallery/Landscape/sampoerna_strategic_square.jpg" alt="" width="360" height="360" /></a></p>
<p>Foto2 lowspeed di bawah 2 detik, biasanya digandrungi oleh fotografer2 abstrak. Sedangkan saya lebih menyukai bidang landscape daripada abstrak. Untuk foto landscape dengan lowspeed, syaratnya hanya dua: bukaan sesempit2nya dan TRIPOD.</p>
<p>Ya tripod menjadi hal yang utama pada lowspeed photography. Untuk pemilihan tripod sendiri, beli lah tripod yang bentuknya kokoh dan mudah dibawa2. Biasanya harga tidak pernah bohong. Untuk tripod berharga di atas 2juta sudah bisa dibilang tripod berkualitas bagus, kokoh, dan ringan.</p>
<p>Terkadang, filter STAR bisa membantu untuk mengeluarkan garis2 cahaya pada lampu2 malam. Filter Star bisa dicari di toko2 photography. Ada Star-4, Star-6, dan Star-8. Saya ada menggunakan filter Star-6 untuk foto berikut. Cuma kelemahannya, tidak bisa berlama2 berlowspeed ria, karena efek star-nya hilang jika kita memotret lebih dari 3 detik.</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.yusfiardiansyah.com/content/Gallery/Landscape/standard_chartered.jpg"><img class="aligncenter" title="Standard Chartered Building" src="http://www.yusfiardiansyah.com/content/Gallery/Landscape/standard_chartered.jpg" alt="" width="363" height="540" /></a></p>
<p>dan satu lagi yang ini:</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://www.yusfiardiansyah.com/content/Gallery/Landscape/wisma_dharmala_sakti.jpg"><img class="aligncenter" title="Wisma Dharmala" src="http://www.yusfiardiansyah.com/content/Gallery/Landscape/wisma_dharmala_sakti.jpg" alt="" width="343" height="540" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.yusfiardiansyah.com/?feed=rss2&#038;p=23</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memotret Makro</title>
		<link>http://blog.yusfiardiansyah.com/?p=9</link>
		<comments>http://blog.yusfiardiansyah.com/?p=9#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 07:47:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yusfi Ardiansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photo Learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.yusfiardiansyah.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Kali ini gue cuma pengen sharing gambar-gambar makro gue. Gue lagi demen motret makro soalnya. Lebih menantang, lebih bikin capek, lebih ngos-ngosan, lebih jeli, dan lebih musti sabar…soalnya objeknya suka lari-larian, kalo nggak sabar yang ada tuh objek kabur ngetawain gue sambil bilang &#8220;nggak kena…nggak kena!!!&#8221;. Hahahaha… Macro Photography itu mahal karena selain menggunakan lensa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kali ini gue cuma pengen sharing gambar-gambar makro gue. Gue lagi demen motret makro soalnya. Lebih menantang, lebih bikin capek, lebih ngos-ngosan, lebih jeli, dan lebih musti sabar…soalnya objeknya suka lari-larian, kalo nggak sabar yang ada tuh objek kabur ngetawain gue sambil bilang &#8220;nggak kena…nggak kena!!!&#8221;. Hahahaha…</p>
<p><a href="http://yusfi.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/kadal.jpg"><img src="http://yusfi.blogs.friendster.com/great_story_between_you_m/images/kadal.jpg" border="0" alt="Kadal" width="250" height="153" /><br /></a>Macro Photography itu mahal karena selain menggunakan lensa makro, harus juga dilengkapi flash, dan tripod atau monopod. Yang serius, peralatannya lebih heboh lagi. Ada cable release, flash bracket, flash sync cord, flash difusser atau flash bouncer, dan focusing rail. Untuk hasil magnification yang paling ekstrim, kamera dihubungkan ke mikroskop dengan menggunakan custom made adapter.</p>
<p><a href="http://yusfi.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/tawon.jpg"></a>Mengapa harus menggunakan begitu banyak peralatan? Sifat dari lensa makro dan filter close-up adalah memperbesar obyek foto dari ukuran sebenarnya atau magnification. Magnification ini mengurangi depth of field (apa ya bahasa Indonesianya? Ruang tajam gambar? Wilayah yang fokus?) hingga DOF kadang menjadi tipis sekali. Itulah sebabnya, di keterangan teknis pada foto-foto makro biasanya, F-nya pasti F8 ke atas. Mereka harus memasang bukaan diafragma sekecil-kecilnya untuk memperoleh DOF selebar-lebarnya. Disini flash (external, TTL) menjadi peralatan yang nyaris mutlak untuk mendapatkan shutter speed yang normal, apalagi jika mengingat kebanyakan obyek dari macro photography adalah mahluk hidup seperti serangga yang tidak bisa diduga gerakannya. Flash tidak diperlukan jika pemotretan dilaksanakan outdoor pada saat matahari bersinar menyilaukan.</p>
<p><a href="http://yusfi.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/tawon_2.jpg"><img src="http://yusfi.blogs.friendster.com/great_story_between_you_m/images/tawon_2.jpg" border="0" alt="Tawon_2" width="450" height="246" /><br /></a>Magnification menyebabkan tripod/monopod dan cable release menjadi perlengkapan yang penting sekali pada macro photography untuk meniadakan getaran pada kamera, walaupun tidak mutlak. 90% dari foto-foto macro dari Mark Plonsky diperoleh dengan cara handheld, dengan menumpukan lengan pada lutut atau pada benda-benda di sekitar obyek seperti pohon, pagar. Kadang-kadang, jikalau keadaan memungkinkan, ia meletakkan kameranya pada barang-barang di sekitar seperti potongan kayu dan lain sebagainya.</p>
<p><a href="http://yusfi.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/lalat.jpg"><img src="http://yusfi.blogs.friendster.com/great_story_between_you_m/images/lalat.jpg" border="0" alt="Lalat" width="250" height="166" /><br /></a>Flash bracket digunakan untuk memperoleh sudut lighting yang natural. Tidak mutlak sih. Mas Irwansyah Syukri hanya menggunakan flash sync cord untuk menghubungkan hot shoe dengan flash-nya, lalu minta istrinya memegangi flash-nya, seperti pada foto semut. Tapi kalau kerja sendirian, flash bracket itu mutlak untuk menghindari bayangan lensa pada obyek foto karena obyek foto terletak sangat dekat dengan lensa dan untuk menghindari efek dua dimensi yang disebabkan penggunaan flash frontal dari body kamera baik internal flash maupun external flash pada hot-shoe. <br />
Flash bouncer atau flash difusser digunakan untuk mengurangi atau menyebarkan kekuatan cahaya flash. Lho, katanya tadi kurang cahaya, kok sekarang malah kekuatan cahayanya dikurangi/disebar? Tanpa flash bouncer (bisa diganti dengan selembar kertas putih) atau flash difusser (bisa diganti dengan…maaf…kata teman-teman di YM-FN: kondom, walau ngga jelas ini beneran atau bercanda) cahaya yang jatuh pada obyek yang terletak sangat dekat dengan lensa, yang berarti flash-nya juga sangat dekat dengan obyek, akan terlalu kuat dan tidak tersebar merata sehingga foto menjadi OE sebagian.</p>
<p>Kalo focusing rail digunakan untuk memudahkan pemokusan dengan memaju-mundurkan body kamera tanpa perlu memindah-mindah tripod yang sudah dipasang rapi.</p>
<p>Selanjutnya, tinggal jepret deh. Tapi kalo gue mah, nggak ribet-ribet pake peralatan-peralatan itu. Cuma modal kamera, lensa makro 105mm, sinar matahari jam 10 pagi, sama fisik yang kuat buat megangin kamera biar nggak shaking. Juga, sebelum hunting jangan lupa sarapan dulu. Insyaallah, dapet gambar bagus….hehehe.</p>
<p>Have a nice shot!!! <img class="wp-smiley" src="http://yusfi.blog.friendster.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif" alt=":)" /></p>
<p><a href="http://yusfi.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/tawon2_1.jpg"></a><a href="http://yusfi.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/tawon2_3.jpg"><img src="http://yusfi.blogs.friendster.com/great_story_between_you_m/images/tawon2_3.jpg" border="0" alt="Tawon2_3" width="475" height="250" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.yusfiardiansyah.com/?feed=rss2&#038;p=9</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dasar-Dasar Fotografi</title>
		<link>http://blog.yusfiardiansyah.com/?p=3</link>
		<comments>http://blog.yusfiardiansyah.com/?p=3#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 03:36:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Yusfi Ardiansyah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Photo Learning]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.yusfiardiansyah.com/blog/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini gue kutip dari reply email gue ke temen gue yang baru mau nyebur ke dunia fotografi. Begini kutipannya: ================================================ pertanyaannya dia: &#8220;Fie gw minta artikel tentang fotografi digital dong, yang very..very basic pisan lah… gw ada camdig pocket pisan Sony W-30 gimana ya biar optimal??? Gw jg lg tertarik motret2 neh… Motret si [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Tulisan ini gue kutip dari reply email gue ke temen gue yang baru mau nyebur ke dunia fotografi. Begini kutipannya:</div>
<div>================================================</div>
<div><span>pertanyaannya dia: &#8220;Fie gw minta artikel tentang fotografi digital dong, yang very..very basic pisan lah… gw ada camdig pocket pisan Sony W-30 gimana ya biar optimal??? Gw jg lg tertarik motret2 neh… Motret si neng <img src='http://blog.yusfiardiansyah.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> &#8221;</span></div>
<div>================================================</div>
<div>jawaban gue:</div>
<div>waduh, artikel fotografi basic yah….ga tau deh dimana.</div>
<div>gini aja deh….kalo yg dasar banget gue rangkumin aja sepengetahuan gue ya. lo udah tau belom segitiga fotografi?? segitiga fotografi itu ya ada tiga:</div>
<div>1. ISO/ASA/DIN</div>
<div>2. Aperture/Bukaan Diafragma</div>
<div>3. Speed</div>
<div>nah, kalo lo udah nguasain hubungan antara ketiga itu, lo udah bisa jadi darwis triadi kedua….hehehe</div>
<div>di kamera pocket, segitiga fotografi itu sebenernya juga ada. cuma untuk memudahkan pemakaian, biasanya ngga terlalu dihiraukan oleh si pemakai. padahal, kalo kamera pocket itu bisa lo optimalin segitiga fotografinya, lo bisa dapet gambar bagus juga.</div>
<div>coba deh, kalo motret, jangan manja pake settingan auto terus. cobain yang setting manual. lo coba set ISOnya brp, aperturenya berapa, sama speednya berapa. cobain kombinasi sendiri dan liat hasilnya kayak gimana. ntar lo bisa bedain.</div>
<div>1. ISO/ASA/DIN (ISO=istilah internasional, ASA=istilah jepang, DIN=istilah eropa, kesemuanya sama aja)</div>
<blockquote>
<div>ini adalah standar internasional untuk &#8220;kepekaan film negatif/CCD menyerap cahaya&#8221;. tambah tinggi angkanya, tambah peka media tersebut menyerap cahaya. kalo jaman dulu lo suka beli film negatif ke fuji, dengan ASA 200, ASA 400, dsb. ya itulah dia. karakternya kayak begini:</div>
<div>a. kalo lo make ISO tinggi (misal: ISO 800, ISO 1200, ISO 1600)</div>
<blockquote>
<div>penyerapan cahaya makin peka. bagus buat night shot. kemungkinan gambar shaking akan lebih kecil, karena karakternya yg kuat menyerap cahaya, lo jadi bisa motret dengan speed tinggi yang mengurangi efek shaking dari tangan lo yang bergeter saat motret.</div>
<div>kekurangannya, semakin tinggi lo pake ISO, noise warna makin banyak karena sifatnya yang sangat peka itu. jadi, kalo lo motret pake ISO tinggi, hasil cetakan foto akan lebih jelek kalo diperbesar. efek noise atau grainy-nya sangat mengganggu.</div>
</blockquote>
<div dir="ltr">b. kalo lo make ISO rendah (misal: ISO 200, ISO 100, ISO 75, ISO 25)</div>
<blockquote>
<div dir="ltr">
<div>penyerapan cahaya makin kurang peka. bagus buat daylight shot, atau ketika cahaya cukup memadai. tapi begitu lo motret di tempat yg rada gelap, akan sangat sulit buat lo memotret dengan speed tinggi. kemungkinan shaking lebih besar, dan pemakaian tripod jadi sebuah keharusan.</div>
<div>tapi kelebihannya, semakin rendah lo pake ISO, noise warna makin sedikit karena sifatnya yang tidak peka itu. jadi, kalo lo motret pake ISO rendah, hasil cetakan foto jika diperbesar, akan tetep bagus dan bening. efek noise atau grainy-nya bisa dibilang tidak terlihat.</div>
</div>
</blockquote>
<div dir="ltr">kelebihan kamera digital sekarang, lo bisa nge-set ISOnya kapanpun lo mau. begitu cahaya rada gelap, naekin ISOnya. begitu terang, ya gak usah pake ISO tinggi2 tinggal di set aja di menunya. beda sama jaman film dulu, kalo lo dah beli film yg ISO 200, ya musti ganti film dulu buat ganti ISO.</div>
</blockquote>
<div dir="ltr">2. aperture/bukaan diafragma (simbolnya: f/…)</div>
<blockquote>
<div dir="ltr">diafragma, fungsinya sama persis dengan pupil mata kita. yaitu, mengatur seberapa banyak intensitas cahaya yang akan masuk jatuh ke retina-mata/film negatif/CCD untuk selanjutnya di olah di otak/memory-card sebagai sebuah visual/gambar. di dunia fotografi, ditetapkan angka2 tertentu untuk menentukan seberapa lebar bukaan diafragma. contohnya, ada bukaan f/2.8, bukaan f/4, f/5.6, f/8, f/11, f/16, f/22. setiap angka bukaan itu, punya karakternya masing2. yang perlu menjadi catatan penting di sini adalah, semakin kecil angka diafragma maka semakin lebar bukaan diafragmanya, dan semakin besar angka diafragma maka semakin kecil bukaan diafragmanya.</div>
<div dir="ltr">misal: angka 2.8 memiliki bukaan lebar, sedangkan angka 22 memiliki bukaan sempit.</div>
<div dir="ltr">bukaan lebar (misal: f/2.8), memiliki karakter yang akan membuat intensitas cahaya <strong>banyak</strong> masuk ke film-negatif. efek pada gambar adalah, objek fokus akan sangat detail sedangkan background/foregroundnya akan kabur/blur/bokeh. bukaan ini sering dipakai untuk foto potret dimanaa lo pengen gambar yang hanya tajam di objek dan kabur di backgroundnya.</div>
<div dir="ltr">bukaan sempit (misal: f/22), memiliki karakter yang akan membuat intensitas cahaya <strong>sedikit</strong> masuk ke film-negatif. efek pada gambar adalah, tidak hanya objek fokus yang akan sangat detail, background/foregroundnya akan juga ikutan detail. bukaan ini sering dipakai untuk foto landscape dimana lo pengen gambar yang tajam dari ujung dekat ke ujung jauh.</div>
<div dir="ltr">ngerti cara kerja diafragma, berarti lo harus paham apa itu Depth of Field (DOF). atau bahasa indonesianya, ruang tajam gambar. bukaan lebar, DOF akan semakin sempit. bukaan sempit, DOF akan semakin lebar.</div>
<div dir="ltr"><a href="http://yusfi.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/kadal_1.jpg"><img src="http://yusfi.blogs.friendster.com/great_story_between_you_m/images/kadal_1.jpg" border="0" alt="Kadal_1" width="225" height="137" /></a><br />kalo lo liat foto <a href="http://yusfi.blogs.friendster.com/great_story_between_you_m/images/kadal.jpg">kadal</a> gue yang dulu, foto itu sangat menunjukkan apa itu DOF. gue pake bukaan lebar (kalo gak salah gue pake bukaan 3.3), dimana ruang tajam gambarnya jadi cuma di kepala kadalnya aja, sedangkan badannya hingga ke buntutnya, jadi kabur/blur/bokeh. kalo gue motretnya pake bukaan f/16, udah pasti jadinya semua kepala sampe buntut, tajam semua.</div>
<div dir="ltr">nah, diafragma sama speed, hubungannya sangat kuat. semakin lebar bukaannya, maka semakin gampang lo ambil gambar high-speed karena intensitas cahaya yang banyak. sebaliknya, semakin sempit bukaannya, akan terasa sulit mendapatkan high-speed karena intensitas cahayanya yang berkurang, yg mana pemakaian tripod untuk menghindari hand-shaking menjadi sangat mutlak.</div>
</blockquote>
<div dir="ltr">3. speed</div>
<blockquote>
<div dir="ltr"><a href="http://yusfi.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/water_hold.jpg"></a>nah kalo yang ini, dah pada tau lah artinya apa. adalah kecepatan interval mirror di kamera membuka dan menutup saat menangkap gambar. semakin cepat speednya, lo bisa dapet gambar yang freeze/beku.</div>
<div dir="ltr"><a href="http://yusfi.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/water_hold.jpg"><img src="http://yusfi.blogs.friendster.com/great_story_between_you_m/images/water_hold.jpg" border="0" alt="Water_hold" width="225" height="149" /></a><br />kalo lo motret air mancur dengan speed tinggi, gambar airnya bakalan dapet bulet2 gitu kayak gambar air gue yang di sebelah ini (gue pake speed 1/8000 sec, f/3.8, ISO200).</div>
<div dir="ltr"><a href="http://yusfi.blogs.friendster.com/.shared/image.html?/photos/uncategorized/diana1_1.jpg"><img src="http://yusfi.blogs.friendster.com/great_story_between_you_m/images/diana1_1.jpg" border="0" alt="Diana1_1" width="225" height="149" /></a><br />kalo lo pake low-speed, lo bakalan dapet gambar dengan efek gerakan, contohnya gambar model gue yang main air itu, kalo gak salah gue ngambilnya dengan speed 1/15 sec, f/4.5, ISO 200.</div>
</blockquote>
<div dir="ltr">nah, yang terakhir untuk kesimpulan dari segitiga fotografi:</div>
<div dir="ltr">4. metering</div>
<blockquote>
<div dir="ltr">usahain saat motret, metering ada di posisi nol. nggak mutlak sih, tapi untuk dapet cahaya yg pas, mending diusahain di posisi nol. metering, cuma ada di kamera SLR. kamera pocket, gue blm pernah liat. icon metering, ada di viewfinder saat lo motret. kurang lebih bentuknya kayak gini: <span>(+_____|_____-)</span> nah usahain, pointernya ada di tengah. kalo pointernya agak menjorok ke arah plus, berarti hasil gambar lo akan Over Exposure (terlalu terang). kalo pointernya agak menjorok ke arah minus, berarti hasil gambar lo akan Under Exposure (terlalu gelap). pengaturan metering adalah dengan cara maen2in bukaan diafragma, speed, dan ISO-nya, diturunin atao dinaekin, terserah elo pengen jadi gambar gimana.</div>
</blockquote>
<div dir="ltr">sebenernya, di jaman digital gini dimana kamera semakin canggih, masih ada satu bahasan lagi tentang dasar-dasar fotografi, selain segitiga fotografi yang gue terangkan di atas, yaitu:</div>
<div dir="ltr">5. white balance (WB)</div>
<blockquote>
<div dir="ltr">white balance adalah seberapa besar kamera menyesuaikan sensitifitasnya terhadap cahaya yang ada (available light) untuk menyamakan warna putih yang &#8220;sebenarnya&#8221; pada kondisi cahaya tertentu, agar bisa mendapatkan warna-warna yang true color. sayangnya, kamera2 jaman dulu belom ada fitur setting WB ini. tapi, untuk kamera2 digital jaman sekarang, udah ada.</div>
<div dir="ltr">ngomongin white balance, musti tau dulu definisi apa itu<strong>&#8220;warna putih sempurna&#8221;</strong>. ketika sebuah besi baja dibakar, maka baja tersebut akan berubah warna sampai memerah, jika terus dibakar maka baja tersebut semakin panas hingga berwarna putih, dan jika masih terus dibakar maka akan berubah berwarna biru.</div>
<div dir="ltr">nah warna putih sempurna, akan didapatkan ketika baja tersebut dibakar berubah menjadi warna putih suci. kalo gue nggak lupa (CMIIW), suhu baja tersebut saat berwarna putih adalah berkisar antara 5200-5400K (derajat kelvin). nah, itu yang dinamakan putih sempurna. kalo warna putihnya kemerahan, berarti suhunya di bawah 5200K. kalo warna putihnya kebiruan, berarti suhunya di atas 5400K.</div>
<div dir="ltr">saat memotret, kita akan mendapatkan kondisi sumber cahaya yang berbeda-beda, yang mana akan berpengaruh pada objek yang warna putih. kalo setting WB kita asal2an, atau kita set auto, kadang kita nggak puas sama warna yang kita mau, alias warnanya nggak keluar. kalo kita nggak nge-set WB secara manual, kadang warna putih yang kita dapatkan akan kebiruan, atau kemerahan. di saat seperti itu, kita perlu setting WB secara benar. di setiap kamera, cara setting WB berbeda-beda, bisa dibaca di manualnya masing2.</div>
</blockquote>
<div dir="ltr">naaaahhh…kalo lo udah kuasain konsep segitiga fotografi ini, dijamin gambar lo bagus2. tapi itu baru dasarnya banget. baru sekedar cara untuk memotret. selebihnya, banyak2 ngejepret + tambahin belajar konsep, angle, komposisi, lighting, dan tentu saja…moment!!! karena, cabang2 fotografi masih banyak lagi dah lebih dalam lagi kalo mau diexplore.</div>
<div dir="ltr">gitchuuu….</div>
<div dir="ltr">have a nice shot!! <img class="wp-smiley" src="http://yusfi.blog.friendster.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif" alt=":D" /></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.yusfiardiansyah.com/?feed=rss2&#038;p=3</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

